DETAKOM NEWS | Aceh Tamiang masih menangis. Setiap puing rumah yang tergeletak, setiap lahan pertanian yang terendam lumpur, adalah tanda luka yang dalam—yang merobek bukan hanya tempat tinggal, tapi juga rasa aman, sumber kehidupan, dan harapan yang dulu bersinar. Ratusan keluarga hidup di bawah tenda yang menggoyangkan, makan dengan yang tersisa, dengan hati penuh takut: apakah hari esok akan lebih buruk?
Hingga Selasa (23/12/2025) tiba. Hari itu, suara tangis seolah sedikit tertutup oleh langkah-langkah yang penuh kasih. DPD Pemuda Karya Nasional (PKN) Sumatera Utara tiba dengan dada yang lebar, membawa 5 ton beras dan bantuan kemanusiaan yang lebih hangat dari pelukan ibunda. Bukan sekadar barang—tapi jiwa yang benar-benar ingin menjadi bagian dari penderitaan mereka.
Di pimpinan Edy Suranta Gurusinga, yang semua panggil Bang Godol, rombongan itu datang dengan penuh semangat: Sekretaris DPD Srikandi, jajaran pengurus, ketua dan sekretaris DPC dari Medan, Tanjung Balai, Langkat, dan kota-kota lain di Sumut, serta Satuan Pelajar dan Mahasiswa (Sapma). Mereka menempuh jalan yang jauh dan licin, lumpur menutupi sepatu—tapi hati mereka tetap bersih, hanya ingin memastikan bantuan sampai ke tangan yang paling membutuhkan.
Di Gedung Islamic Center: Air Mata yang Berubah Makna
Di Gedung Islamic Center, dekat Kantor Bupati, 84 keluarga pengungsi dari Desa Air Tenang, Kebun Tanah Terban, Kampung Dalam, Tupah, dan Tanah Terban berkumpul. Mayoritas mereka petani dan buruh kebun—yang rumah dan ladang mereka sudah hanyut bersama semua yang mereka miliki. Saat rombongan PKN muncul dari kejauhan, suasana yang dulu sunyi dan sedih tiba-tiba penuh dengan tangis haru. Warga berdiri, mata mereka berkaca-kaca, beberapa menangis terisak-isak—akhirnya, ada yang peduli.
Satu per satu, bantuan diturunkan dengan teliti: beras yang akan mengisi perut, genset yang akan menghilangkan kegelapan malam, 48 dus mi instan untuk makanan cepat, angkong dan cangkul untuk memulai lagi, pakaian yang hangat untuk melindungi dari dingin, matras untuk tidur yang lebih nyenyak, air mineral yang segar, kompor gas yang akan membakar api memasak, dan 150 nasi kotak yang langsung dinikmati dengan senyum yang pertama kalinya dalam waktu lama.
“Tetap kuat, ya, bapak-ibu, anak-anak,” ujar Bang Godol dengan nada yang lembut tapi tegas, matanya juga terbasah. “Semoga bantuan ini sedikit meringankan beban yang你们tanggung.”
Bani, perwakilan pengungsi, berdiri tegak meskipun suara bergetar: “Terima kasih… orang baik. Kalian datang di saat kami paling putus asa. Semoga Tuhan selalu melindungi kalian semua.”
Kisah Indah: Saat Harapan Yang Hilang Kembali Bersinar
Di tengah kerumunan, ada Indah—seorang ibu tunggal dari Pontianak yang mengasuh dua anak kecil, usia 5 dan 7 tahun. Rumahnya di Desa Kota Lintang Bawah hanyut tanpa sisa—hanya meninggalkan sepasang sepatu yang terjepit di pohon. Ia sempat bertahan di posko di atas jembatan Kuala Simpang, tapi ketika mendengar berita ada anak yang terjatuh ke sungai, ia tak bisa lagi menahan ketakutannya. Aku harus pulang ke kampung halaman, agar anak-anakku aman, pikirnya. Tapi uang untuk tiket? Tidak ada. Hanya air mata yang terus menetes.
Mendengar cerita Indah, Bang Godol langsung mendekatinya, menepuk bahunya lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil uang dari dompetnya dan memberikannya. “Ini untukmu dan anak-anakmu pulang ke Pontianak, Indah. Jangan khawatir lagi.”
Indah menangis terisak-isak, memeluk kedua anaknya erat. “Terima kasih banyak, Pak Edy… ini bukan cuma uang. Ini harapan yang aku cari-cari sepanjang waktu. Anak-anakku bisa pulang… bisa merasa aman lagi.” Anak bungsunya juga menatap Bang Godol dengan mata penuh rasa hormat—seolah melihat pahlawan.
Di Desa Lubuk Sindup: Semangat Kebaikan Yang Tak Berhenti
Setelah dari Islamic Center, rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Lubuk Sindup, Kecamatan Sekerak. Di sana, 154 keluarga kehilangan rumah dan mendirikan dua posko darurat di tengah puing dan lahan kosong. Warga mereka sudah beberapa hari tidur di lantai tanah, makan yang tersedia dari tetangga.
PKN kembali menyalurkan bantuan dengan hati: dua genset besar yang akan menyalaikan malam, ratusan karung beras, mi instan, air mineral, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya. Budi, Sekretaris DPD PKN Sumut, berdiri di tengah kerumunan dan berkata: “Kami datang bukan hanya membawa barang. Kami datang sebagai saudara yang ingin berdiri di sisi kalian, di tengah penderitaan ini.”
Udin Amin, perwakilan posko, berdiri dengan mata berkaca-kaca: “Semoga apa yang kalian berikan menjadi amal jariah yang tidak hilang. Bantuan ini sangat berarti—bukan cuma untuk hari ini, tapi untuk kita bisa bangkit lagi. Terima kasih, orang baik… terima kasih PKN.”
PKN: Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Tempat di Mana Hati Bertemu
Kehadiran PKN di Aceh Tamiang bukanlah acara seremonial. Tidak ada panggung megah, tidak ada jarak antara pengurus dan pengungsi. Hanya langkah kaki yang menyusuri lumpur, tangan yang menyalurkan bantuan dengan penuh kasih, dan telinga yang mau mendengar setiap tangis dan keluhan rakyat kecil.
Di bawah kepemimpinan Bang Godol, PKN Sumatera Utara menunjukkan bahwa kepedulian bukan sekadar kata-kata di kertas. 5 ton beras, genset, hingga bantuan pribadi untuk Indah—semua bukti bahwa mereka hadir dengan hati, bukan dengan hitung-hitungan. Korban bencana bagi mereka bukan angka statistik—tapi manusia yang memiliki hati, yang menangis, yang berharap.
Ketika rombongan PKN akhirnya meninggalkan Aceh Tamiang, mereka tidak membawa apa-apa selain doa. Doa dari para pengungsi yang lirih namun tulus, yang terus mengalir bersama ucapan yang tak pernah hilang dari hati:
“Terima kasih orang baik… Terima kasih Pemuda Karya Nasional.”
(Red/D/VT)

